Press "Enter" to skip to content

Gaji UMK Jogja, Bisa Dapat Apa?

Meninggalkan Jogja itu memang berat. Siapa pun yang pernah datang ke Jogja, pasti menyimpan secuil kenangan yang amat berkesan. Setiap sudut Jogja adalah tempat yang romantis. Bahkan tak jarang, Jogja telah mempertemukan dua insan yang kemudian menjalin kasih dan cinta.

Jogja juga tempat yang ramah untuk bekerja. Biarpun jenuh datang melanda. Jogja selalu punya obatnya. Mau bersafari dan menyegarkan pikiran? Jogja menawarkan banyak ragam tempat wisata. Itulah sebabnya Jogja juga dikenal sebagai kota wisata.

Bahkan setelah lulus diploma dan sarjana, banyak yang enggan beranjak dari Jogja karena alasan terlalu nyaman, atau belum mendapat pasangan. Jogja memang menjadi tempat yang ramah bagi mereka yang ingin menghindar dari pertanyaan yang menyudutkan tentang pasangan hidup dan karir. Karena di Jogja, pura-pura kerja adalah profesi yang menjanjikan. Dan menjadi jomlo adalah hak dari anggota militan Indonesia Tanpa Pacaran.

Di balik harga jajanan kaki lima yang masih terjangkau, kerja tanpa tekanan, masyarakat yang ramah, biaya kos murah, Jogja tak bisa menjamin pekerja kantoran menjadi orang yang kaya raya. Kenapa? Ya, pasalnya UMK Jogja sangat rendah dibanding provinsi lainnya. Sepandai-pandai kita menabung, Jogja perlahan merubah gaya hidup kita.

Sebelum mengupas topik tulisan lebih dalam, mari kita cermati nilai UMK di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdasar SK nomor 320/KEP/2018 yang telah berlaku pada 1 Januari 2019, UMK Kota Yogyakarta sebesar Rp 1.846.400, Kabupaten Sleman Rp 1.701.000, Kabupaten Bantul Rp 1.649.800, Kabupaten Kulon Progo Rp 1.613.200, dan Kabupaten Gunungkidul Rp 1.571.000.

Dengan besaran upah di atas, tak jarang perusahaan di Jogja memberikan gaji senilai UMK di tahun pertama untuk lulusan sarjana. Gaji ini diberikan kepada siapapun bahkan bagi mereka lulusan kampus terbaik sekalipun.

Tanpa perlu debat panjang, dengan mengambil kasus UMK tertinggi Rp 1.846.400, hidup di Jogja bisa dapat apa?

1. Biaya Makan

Pertama. Ya, namanya manusia tetap butuh makan. Ambilah sekali makan di Jogja Rp 10.000. Ini pun jika kita masih memelihara gaya hidup ala mahasiswa yang jenis lauknya hanya dua: sarden dan telur. Jika dalam satu hari kita makan sebanyak tiga kali, maka gaji yang akan kita gunakan adalah Rp 30.000/hari. Secara hitungan, maka kita akan menggunakan gaji kita sebanyak Rp 900.000 untuk biaya makan bulanan. Mau lebih irit lagi? Carilah pekerjaan yang menanggung biaya makan siang kita. 🙂

2. Biaya Tempat Tinggal

Kedua. Bagi anak rantau tentunya membutuhkan tempat tinggal. Berdasar survei tim Pura-Pura Kerja, harga sewa kos bulanan di Jogja cukup beragam. Normalnya adalah Rp 300.000/bulan tanpa kamar mandi dalam. Harga tersebut tentunya belum termasuk biaya listrik. Biasanya, pemilik kos menghitung biaya listrik sesuai dengan barang bawaan. Normalnya adalah Rp 30.000/bulan. Dengan begitu, kita harus menyisihkan uang gaji sebanyak Rp 330.000 untuk biaya tempat tinggal dan listrik bulanan.

3. Biaya Berpindah Tempat

Ketiga. Siapapun yang bekerja di Jogja pasti membutuhkan kendaraan untuk berpindah tempat. Entah itu mobil, motor, maupun menggunakan transportasi online, semua membutuhkan BBM untuk menggerakkan mesinnya. Ambilah Rp 25.000 untuk biaya BBM selama 3 hari (kasus menggunakan motor bebek keluaran). Dengan begitu, kita harus menyisihkan uang gaji sebanyak Rp 250.000 untuk biaya BBM bulanan. Hitungan ini juga belum termasuk biaya parkir, lho!

4. Kebutuhan Sehari-hari

Keempat. Masa iya kamu ga mandi? Ga merias wajah saat berangkat kerja? Semua itu pastinya butuh pengeluaran. Ambilah dalam satu bulan, kita harus membeli sabun, sampo, pasta gigi, pembersih muka, parfum, deodoran, pomade, dan kebutuhan lainnya. Dengan begitu, kita harus menyisihkan uang gaji minimal Rp 100.000 setiap bulannya. Ini adalah hitungan untuk kebutuhan pria. Jika kamu wanita. Mungkin biayanya akan membengkak.

5. Kuota Internet

Kelima. Pastinya kita butuh hiburan. Jenis hiburan yang paling murah adalah berselancar di internet atau bersosial media. Dengan begitu, kita harus menyisihkan uang gaji sebanyak Rp 70.000 untuk membeli paket data supaya bisa terus mbribik (menggoda) orang yang kita sukai. Itupun kalau berbuah manis. Kalau ditolak? Ya, mbribik harus lebih gencar lagi. Dana yang dikorbankan juga harus ditambah lagi.

6. Nikah Teman, Masa Ga Nyumbang?

Keenam. Saat memasuki musim nikah, maka kita harus siap menyisihkan uang gaji kita. Paling tidak, dalam satu bulan ada sahabat/teman kita yang menikah. Jika kamu tipe orang yang tidak pelit-pelit amat, Rp 50.000 sudah cukup layak untuk sebuah kado pernikahan.

7. Kumpul, Nonton, dan Ngopi Bareng

Ketujuh. Seperti yang dijelaskan di atas. Untuk mengurangi kejenuhan, kita harus melakukan penyegaran. Meski tidak harus melalui kegiatan wisata, penyegaran bisa dilakukan dengan berkumpul dengan teman/sahabat tanpa harus membahas perkara pekerjaan.

Kopi Darat (kopdar) di café setiap pekan bisa jadi pilihan. Jika ada film baru, menonton di bioskop tak boleh terlewatkan. Apalagi jika kamu penggemar film Marvel. Jangan menunggu film bajakan, dong! Ga seru, ah! Masa kamu mau ketawa sendiri di dalam kamar? Ketawa ramai-ramai jauh lebih seru.

Dalam sekali nongkrong, biasanya kita bisa menghabiskan Rp 20.000. Jika frekuensi nongkrong kita dilakukan setiap libur akhir pekan, maka kita membutuhkan biaya Rp 80.000 setiap bulannya.

Kesimpulan

Nah, tujuh poin di atas adalah kebutuhan bulanan yang tak akan luput menggunakan gaji kita. Jika harus ditotal, setiap bulannya kita akan mengeluarkan biaya sebanyak Rp 1.780.000. Repotnya lagi, jika kamu memiliki sebuah hobi. Misal fitness, membaca buku, main PS, semua itu tentu membutuhkan biaya. Hmm… Mudah-mudahan kamu tidak memiliki cicilan juga, ya!

Jika kita ingin hidup hemat, kita bisa mengambil pilihan untuk menjadi orang yang anti sosial, jauh dari teman, dan bahagia mengurung diri di kamar. Maka, poin nomor 5,6, dan 7 boleh kita abaikan. Dengan demikian, kita hanya menggunakan uang sebanyak Rp 1.580.000 dari jumlah gaji kita. Tapi masa iya seekstrim itu?

Gambaran tentang pengeluaran bulanan di atas jelas akan membuat kita berpikir lagi. Akankah tetap memilih bekerja di Jogja? Mencari kerja saja sudah susah. Sekalinya dapat kerja, menabungnya ikutan susah. Lalu, kapan bisa menikahi gebetan? Ya, perlu keberanian, sih!

Hitungan di atas tentunya untuk pekerja yang belum memiliki pasangan lho, ya! Bagaimana yang sudah berkeluarga? Pilu!

2 Comments

  1. arikus arikus 28 Februari 2019

    Thn 2005, saya masih kerja di Jogja. Dapat gaji 425rb/bulan. Hahaha, dibandingkan keuntungan jualan komputer satu unit dahulu mah lewat gajiku sebulan..

    • Abdulloh Abdulloh Abdulloh Abdulloh Post author | 1 Maret 2019

      Wah. Tahun 2005 segitu ya. Itu harga sewa kos per bulan berapa dong?

Tinggalkan Balasan