Press "Enter" to skip to content

Apakah Jomlo Perlu Memiliki Dana Darurat?

Last updated on 10 Maret 2019

Jika kita melakukan pencarian dengan kata kunci “dana darurat”, hasil halaman awal akan didominasi dana darurat untuk keluarga. Apakah dengan demikian kaum single tidak memerlukan dana darurat? Apalagi jika si jomlo memiliki penghasilan rutin yang cukup atau bahkan lebih untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tak ketinggalan sederet proteksi kesehatan, jiwa, hingga kendaraan telah terpenuhi. Sepertinya hidup aman, tenteram dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan ya?

Dana Darurat : sejumlah dana yang digunakan untuk kepentingan darurat

Menurut pakar perencana keuangan, urgensi dana darurat ini paling utama dibandingkan tabungan dan investasi. Dari beberapa referensi yang saya baca, besaran dana darurat bagi single berpenghasilan rutin minimal sebesar 3 kali pengeluaran perbulan. Sedangkan untuk pasangan tanpa anak, setidaknya 6 kali pengeluaran bulanan. Bagi keluarga lengkap dengan anak, setidak-tidaknya tersedia 12 kali pengeluaran. Dana darurat disimpan dalam instrumen yang paling likuid. Karena harus tersedia saat itu juga ketika dibutuhkan.

Jomlo: pria atau wanita yang belum memiliki pasangan hidup

https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/jomlo

Saat ini kesadaran untuk memiliki dana darurat memang makin meningkat. Namun, realitanya untuk konsisten dan disiplin dalam menyiapkan dana darurat, belum maksimal. Apalagi bagi yang merasa masih rutin berpenghasilan dan tidak merasa memiliki risiko keadaan darurat. Padahal sebenarnya risiko keadaan darurat bisa menghantui siapa saja, tak peduli jomlo maupun berpasangan. Ada juga kondisi-kondisi yang tidak terpikirkan oleh kita, sampai ternyata menguras isi rekening. Kondisi apa saja itu?

Gadget Rusak

Sebenarnya ini kondisi paling sepele, dan seringkali dianggap bukan keadaan darurat. Tapi, apakah benar? Mari kita membayangkan ponsel mendadak mati total dan sama sekali tidak bisa digunakan. Syukur-syukur masih dalam masa garansi, sehingga cukup dibawa ke service center saja. Tapi ternyata kerusakan tidak termasuk masa garansi, dan biaya memperbaikinya melebihi 50% dari harga ponselmu. Kira-kira kamu mau bagaimana?

“Saya sih bisa hidup tanpa ponsel pintar.”

Coba dipikirkan tidak hanya dari sudut pandang pribadi. Bagaimana sebalnya kamu ketika tidak bisa menghubungi teman melalui pesan instan dan sosial media. Temanmu menonaktifkan centang biru di whatsapp saja kamu sudah blingsatan. Bagaimana kamu harus menghadapi atasan dan rekan kerjamu yang sebal karena sulit menghubungi kamu. Belum lagi jika ternyata pekerjaanmu membutuhkan keberadaan ponsel pintar. Bisa hilang peluang bonus ratusan juta atau proyek miliaran hanya karena kamu kalah cepat merespons dengan kompetitor.

Menggunakan dana darurat untuk membeli gadget jarang dianjurkan oleh perencana keuangan. Tentu saja jika yang dimaksud adalah kebutuhan gadget yang tersier, seperti bergonta-ganti setiap ada merek terbaru. Atau mengharuskan diri menggunakan ponsel dengan spesifikasi tinggi, sementara kebutuhanmu hanya stalking sosial media mantan. Keberadaan dana darurat setidaknya dapat menyelamatkanmu sementara, karena kamu harus segera mengganti uang tersebut sesegera mungkin.

Akan lebih aman lagi jika kamu sudah punya anggaran khusus untuk back-up kebutuhan barang elektronik yang bisa rusak tiba-tiba, sehingga tidak perlu mengusik dana darurat. Ini berlaku juga untuk barang elektronik lain yang menjadi kebutuhan primer seperti komputer/laptop bagi profesi penulis dan programmer freelance misalnya, atau kamera bagi fotografer dan videografer.

Kendaraan Rusak atau Turun Mesin

Seminggu lalu, temanku baru saja berkeluh kesah soal biaya perbaikan kendaraannya. Untuk sepeda motor matic bervolume silinder 110 cc, tagihan hingga 1 (satu) juta tentu mengagetkan. Sementara kendaraan itu sangat krusial bagi mobilisasi hariannya. Jika harus diganti dengan transportasi online, per sekali jalan sekitar 12ribu, berarti sehari PP 24ribu. Iya kalau sehari-harinya hanya mondar-mandir rumah dan kantor saja.

Pakai transportasi umum? Sayang sekali rumah temanku itu tidak dijangkau transportasi publik. Jadi pilihan terbaiknya ya memperbaiki kendaraannya

Bagaimana jika kejadian seperti ini saat kebutuhan bulananmu banyak-banyaknya? Kondisi di mana isi dompet dan isi rekening sama dengan isi hatimu, kosong. Sementara menunggu gajian, masih terlalu lama. Tentu beda cerita jika kamu punya cukup dana darurat. Jadi ketika kendaraanmu bermasalah dan bengkel menyodorkan perkiraan biaya, kamu bisa dengan keren dan mantap langsung mengiyakan. Gak keliatan sobat missqueen-nya begitu, lho.

Kecelakaan

Kecelakaan saat berkendara bisa terjadi pada siapa saja, dan pastinya tidak diinginkan oleh siapa pun. Setiap langkah kita keluar rumah, risiko kecelakaan sudah mengikuti. Entah kitanya atau orang lain yang kurang hati-hati, siapa saja bisa menjadi korban dan pelaku kecelakaan. Ingat bahwa kecelakaan di dunia nyata tidak seperti adegan FTV. Ketika mbak-mbak cantik menjadi korban kecelakaan kendaraan pria kaya raya kemudian saling jatuh cinta.

“Loh, saya kan punya asuransi full coverage?”

“Loh, kecelakaan lalu lintas kan di-cover Jasa Raharja?”

Benar, Mahmudah. Tapi bagaimana dengan efek di luar coverage asuransi yang menuntut dana? Misalnya biaya transportasi bolak balik rumah sakit, biaya kontrol dan fisioterapi, biaya makan saudara atau teman yang menjagamu saat rawat inap, biaya ganti rugi dan pengobatan korban jika kamu dianggap pelaku. Belum lagi jika kendaraanmu rusak dan tidak diasuransikan.

Tidak cukup sampai di situ, pikirkan juga biaya transportasi yang mungkin keluar selama kendaraan pribadimu masuk bengkel.

Cukup?

Belum, saudaraku. Bagaimana jika ternyata kondisimu pasca kecelakaan tidak lagi memungkinkan untuk kembali ke pekerjaan lamamu? Masih bagus jika kamu hanya digeser ke divisi lain. Bagaimana jika ternyata kantor memilih mengistirahatkan kamu?

Ya, hidup memang bisa sekejam itu.

Kebutuhan Mendadak Bertambah

Banyak yang bilang milenial memiliki risiko menjadi sandwich generation. Tidak menutup kemungkinan terjadi hal-hal di lingkungan kita, yang berimbas pada tambahan beban pengeluaran.

Misalnya, orang tua atau anggota keluarga sakit hingga dirawat di rumah sakit. Tentu membutuhkan pengeluaran besar tidak hanya sekadar biaya rumah sakit. Belum lagi jika pasien memiliki tanggungan biaya-biaya seperti pendidikan anak, cicilan dan biaya hidup harian. Yang tadinya kita tidak ikut membayar biaya sekolah adik, membiayai belanja rumah tangga, kemudian menjadi bertanggung jawab atas kewajiban-kewajiban tersebut. Manusia memang tidak pernah bisa menebak umur dan rejeki, bukan? Maka alangkah lebih baiknya berjaga-berjaga.

Selain usia, jodoh juga tidak bisa ditebak. Siapa tau tiba-tiba kamu bertemu jodoh, dan memutuskan mengakhiri masa lajang. Dengan dana tabungan dan dana darurat yang memadai, kamu memiliki kelonggaran waktu untuk menyesuaikan transisi budget bulanan, dari single menuju double. Apalagi untuk pasangan tanpa anak, dana darurat yang disiapkan harus lebih besar. Kalau saat single saja tidak disiplin dengan dana darurat sendiri, bagaimana mau memenuhi dana darurat saat menikah?

Duh, kak. Jangankan dana darurat. Bisa bertahan hidup dalam keadaan dompet yang sekarat saja, sudah bagus.

Jika demikian maka pura-pura bekerjalah lebih keras, anak muda!

2 Comments

  1. deddyhuang.com deddyhuang.com 10 Maret 2019

    perlu banget dong, apalagi kalau pas saat itu lagi kena phk dan gak punya dana darurat bisa gimana coba 😀

    • Tukang Fotocopy Tukang Fotocopy Post author | 14 Maret 2019

      Setuju, nah PHK atau mendadak tidak bekerja itu risiko paling berat. Mending kalo dapat pesangon. Kalo enggak? makin kalang kabut

Tinggalkan Balasan