Press "Enter" to skip to content

Lima Kesambatan yang Sering Diucapkan Pekerja Kantoran

Pekerja kantor yang masuk selama lima atau enam hari dalam seminggu menjadi rutinitas yang menyenangkan bagi kawula muda. Maksudnya di sini adalah orang-orang yang baru terjun di dunia kerja. Selepas kuliah langsung kerja. Sebuah kenikmatan yang hakiki.

sambat
meminta bantuan; mengaduh

https://kamuslengkap.com/kamus/jawa-indonesia/arti-kata/sambat

Berangkat kerja pukul 07.00 WIB, lantas bergelut dengan segala pekerjaan di kantor hingga sore. Rata-rata pulang kerja pukul 16.00 WIB. Tidak jarang harus pulang terlambat karena ada rapat dadakan, hingga menyelesaikan tugas lemburan.

Setahun pertama, rutinitas ini terlihat asyik. Di antara kawan-kawan masih bergelut menyodorkan ijazah dan lamaran kerja, kita sudah satu langkah lebih maju. Tiap akhir bulan mendapatkan kiriman gaji, lantas bisa mengopi tiap pekan.

Tahun-tahun berikutnya, baru mulai terasa ada sedikit kejenuhan. Tidak hanya terkait waktu, namun juga kolega atau malah pimpinan kantor yang berubah. Biasanya waktu cuti tidak pernah dimanfaatkan. Sekarang malah kekurangan masa cuti. Tanda-tanda harus melepas penat sejenak di antara banyak tumpukan pekerjaan.

Meski dikerjakan dengan baik. Mereka acapkali disertai keluhan. Mengeluh yang diartikan dalam Bahasa Jawa dengan kata “Sambat” ini menjadi hal yang mutlak. Karena kesambatan kita itu sebenarnya sebuah motivasi.

Di Pluto sendiri, masyarakatnya yang tidak lebih banyak dari pemain sepakbola pun tetap ada yang mengeluh. Memang sih, di manapun keluhan/sambat itu adalah sesuatu hal yang lumrah. Namun, tidak sedikit yang menjadikannya sebagai alasan untuk malas bekerja.

Saya tulis sedikit keluhan-keluhan atau sambat yang ada di Pluto. Siapa tahu mirip di Bumi. Dengar-dengar di salah satu negara di Bumi lagi ramai terkait pemilihan pemimpin negara. Saya percaya, di Bumi sambatnya lebih banyak dan beragam.

Sambat Esok Hari Senin

Senin menjadi momok bagi mereka yang jarang ada waktu berlibur. Anak TK menyambut hari senin dengan sukacita. Mereka bisa kembali kumpul dengan kawan kelasnya, lantas bernyanyi bareng guru. Sesuatu yang menyenangkan.

Siswa SD sampai SMA beragam pula menyambut hari senin. Sebagian gembira, namun tidak sedikit yang berdoa hujan deras di musim kemarau. Upacara bendera menjadi alasan mereka malas hari Senin. Terlebih bagi mereka yang atributnya tidak lengkap. Siap-siap jadi tim kebersihan sekolah atau olahraga mengelilingi lapangan upacara sepuluh kali.

Bagaimana dengan para pekerja kantoran!? Minggu malam adalah waktu yang diharapkan jauh berlangsung lebih lama. Kalau perlu khusus malam Senin lamanya sama dengan sepuluh purnama. Bertebaran di lini masa menyambut hari Senin. Ada yang bahagia, tidak sedikit pula yang mengeluh.

“Pura-pura lupa kalau besok Senin!”
“Gusti!! Baru saja libur. Besok kok sudah Senin lagi. Bisa langsung Selasa tidak ya?”

Ya, Senin memang sering dijadikan alasan para pekerja untuk sambat. Meski mereka tahu kalau kesambatannya itu tiada berguna. Tetap saja diucapkan. Biar nggak hanya tertahan di hati.

Sambat Banyak Pekerjaan Deadline

Jauh sebelum gawai (gadget) menyerang sebanyak ini. Android muncul di Pluto, para pekerja yang menggunakan komputer bergelut dengan permainan Soliter. Permainan yang sekilas sederhana dengan menyusun kartu ini nyatanya njelimet.

Mereka yang tidak kebagian jatah komputer cukup nyeruput kopi sembari baca koran. Temanya bukan pilpres, terlalu berat. Cukup membalik langsung ke halaman terakhir, lantas mengisi kotak Teka-Teki Silang (TTS). Sebuah permainan yang membutuhkan kontribusi otak.

Zaman sekarang, pekerja tidak bisa lagi leyah-leyeh santai di kantor. Tumpukan berkas di meja, berbagai kiriman pos-el (e-mail) yang harus dikerjakan, hingga pekerjaan tambahan yang lainnya sudah siap menanti.

Menariknya pekerjaan itu datang silih berganti tanpa putus. Biasanya tugas utama di pekerjaan menjadi sesuatu hal yang jarang dikerjakan. Tapi, sampingan-sampingan tugas bayangan menjadi

“Bagaimana mau mendapatkan jodoh kalau tiap hari berkutat dengan deadline!”

Deadline memang menjadi momok bagi semua pekerja. Terlepas itu kantoran, pekerja lepas, atau pengangguran. Tapi, pekerja kantoran biasanya lebih sering merasakan hal seperti ini. Lagi-lagi harus dikerjakan cepat sembari sambat.

Sambat Tidak Bisa Liburan

Buka kalender, hari senin minggu pertama di bulan Januari. Belum lama, sudah berganti Februari. Baru bangun tidur, eh sudah bulan November. Bentar lagi Desember, dan ganti tahun baru. Semua terasa cepat berlalu.

Sudah berapa kali para pekerja kantoran mengalami hal seperti itu? Bergelut dengan banyak deadline membuat lupa sekarang bulan apa. Bahkan, tidak sedikit dari mereka lupa bagaimana rasanya berlibur lama. Mentok seminggu, itupun waktu lebaran dan cuti nikah.

Tidak jarang pekerja merencanakan untuk berlibur. Menagmbil jatah cuti, dan melupakan pekerjaan untuk sementara waktu. Sayangnya, semua itu lebih banyak sekadar wacana. Tiap mendekati hari H, seringnya ada aral yang mengharuskan kembali bekerja.

“Dulu banyak waktu, nggak ada duit. Sekarang ada duit, nggak ada waktu.”


Pernah mengeluh seperti ini? Kalau pernah berarti di Bumi dan Pluto sama saja. Sama-sama suka sambat dengan kondisi sekarang.

Sambat Gaji Susah Naik

Kurela pergi pagi pulang pagi
Hanya untuk mengais rezeki
Doakan saja aku pergi
Semoga pulang dompetku terisi

Pernah mendengar lagu yang dipopulerkan Armada ini? Ini sedikit gambaran para pekerja kantoran, asongan, bangunan, ojek pangkalan, bus, dan yang lainnya. Semua berangkat ketika mentari asyik-asyiknya menyapa, dan pulang kala sang surya sedang romantis.

Mereka tak memperdulikan waktu. Tergerus oleh waktu itu sendiri. Tanpa terasa sudah lebih satu windu bekerja di tempat yang sama. Urusan gaji terkadang tak sebanding dengan harapan yang diinginkan.

Tidak tiap tahun gaji pekerja itu naik. Jadi harus bisa mengatur sedemikian rupa. Misalkan untuk tabungan masa depan, panjat sosial biar terlihat ngopi tiap pekan, membayar kosan/kontrakan, sampai perkara pengeluaran membeli permen pedas.

“Perasaan sudah lama di sini. Pekerjaan semakin banyak, tapi gajian kok segitu-gitu saja. Kapan bisa membeli mulut para warganet yang suka nyinyir!?”

Sambat Sama Atasan

Lingkungan pekerjaan sangat mempengaruhi prestasi kinerja para pekerja. Mitra yang asyik menjadikan pekerjaan ini layaknya usaha keluarga. Suka duka bersama, mirip pasangan yang sedang memadu kasih.

Tidak jarang pekerja memutuskan keluar dari kantor atau pindah ke tempat yang lain karena faktor tidak nyaman. Bersitegang dengan kolega, atau sering makan hati karena kritikan atasan? Semuanya mempunyai dampak masing-masing.

Sebagai pekerja kantoran lebih dari tujuh tahun, acapkali saya (Rakyat Pluto) mengeluh terkait atasan maupun kolega. Namun, hingga sekarang masih bisa teratasi dengan baik. Tetap saja ada waktu di mana saya wajib sambat.

“Namanya juga bos, kalau memberi perintah sewaktu-waktu. Nggak tahu apa kalau sekarang pukul 23.00 WIB?!”

Pernah mengalami seperti ini? Namun, tetap dikerjakan meski bersungut-sungut? Selamat bagi yang mengangguk, kamu tidak sendirian. Saya pun sering mengalami. Meski kadang esok hari atasan lupa dengan apa yang beliau perintahkan semalam.

Sebagai penutup, mungkin ini ada wejangan dari kami yang berada di Pluto terkait mengeluh atau sambat.

“Sejatinya sambat adalah motivasi pada diri sendiri untuk tetap mengerjakan tugas walau terasa berat.”

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan