Press "Enter" to skip to content

Lima Kesibukan Admin Blog Pura-Pura Kerja

Last updated on 22 Maret 2019

Meski portal pura-pura kerja ini baru diresmikan kepada khalayak umum. Saya mulai paham seperti apa aktivitas tiap admin di kala senggang. Bukan senggang sih, hanya pura-pura tidak ada deadline. Perbincangan di WAG tidak banyak, cenderung pendiam. Sekalinya ada obrolan, mesti informasi terkait mengisi konten blog. Setelah itu sunyi kembali layaknya hati yang kosong.

Terlepas dari semua itu, berikut saya tuliskan sedikit bocoran kelakuan admin kala sedang sok sibuk bekerja. Percayalah, berusaha meyakinkan orang lain jika admin benar-benar bekerja itu sangat sulit. Tiap beneran bekerja, tetap saja ada komentar yang terlontar.

“Pura-pura kerja, ya!?”

Memantau Lini Masa di Media Sosial Sepanjang Waktu

Sebagai admin, tentu kami semua terbiasa memantau media sosial. Setiap apapun yang ramai diperbincangkan oleh warganet wajib kami ketahui. Kami takut, sedikit saja lengah, bisa hilang kesempatan mengetahui kejadian-kejadian yang riuh. Khususnya di Twitter.

Tidak sekadar memantau saja. Admin pura-pura kerja juga sering aktif melibatkan diri berinteraksi terkait obrolan tertentu. Lebih seringnya itu asal nyamber kicauan orang di Twitter, atau bikin kisruh di komentar posting-an kawan.

Bisa juga bikin ramai komentar di unggahan Instagram para selebgram. Tiap ada selebgram yang unggah foto ciamik, para admin pura-pura kerja sudah menyiapkan bahan untuk komentar.

“Mau jadi kontributor di purapurakerja.com nggak, sis?”

Menonton Story Instagram Selebgram

Waktu luang admin pura-pura kerja itu hampir tak terbatas. Dari lima admin, hanya dua yang bekerja rutin (berangkat pagi, pulang sore). Selebihnya yang lain cukup luang dan berusaha menciptakan citra bekerja layaknya pekerja kantoran kebanyakan.

Meski Instagram pura-pura kerja fakir pengikut, namun jangan salah. Keaktifan akun tersebut benar-benar patut diacungi jempol. Tiap waktu, mau pagi, siang, sore, malam, dinihari, sampai subuh, kami senantiasa sabar melihat story selebgram yang bentuknya sudah seperti garis titik-titik yang tak berujung.

Tak hanya melihat, kami bahkan sempat menjadikan story tersebut sebagai bahan berdikusi. Misalkan melihat story-nya Dian Sastro, Lucinta Luna, Gempi, dan yang lainnya. Sesekali juga melihat story-nya Lambe Turah dan para tokoh yang menjadi buzzer politik.

“Sehari, itu mbak Dian Sastro berapa kali bikin story ya? Buanyak banget.”

“Kalau si X itu rate card-nya berapa sekali story? Itu seharian story-nya endorse semua.”

Atau ikutan gabung di siaran langsung selebgram. Tujuannya bukan untuk melihat aktivitas selebgram tersebut, tapi lebih pada ingin membaca komentar-komentar yang muncul di layar gawai (gadget). Dalam hati berharap ada pertikaian di sana.

Kongkow di Kafe, Ngobrolin Tema Unfaedah

Niat awal pas nongkrong mau bekerja. Tiap admin sudah bawa laptop masing-masing. Kemudian konsentrasi menatap layar laptop. Selang setengah jam, satu persatu melupakan niat awal. Para admin mulai ngobrol.

Obrolan yang kami angkat bukan tema berat-berat. Tidak mungkin kami membahas politik, saham, atau peristiwa-peristiwa penting di dunia. Para admin lebih suka membahas hal-hal yang receh. Karena topik receh seringnya menarik.

Misalkan kita sedang bareng dan melihat video YouTube salah satu kawan. Lantas kami secara kompak mengomentarinya. Kadang juga sengaja stalking salah satu akun di Instagram, ingin mencari bahan gibah dari foto-fotonya.

“Ini foto nggak gaya Balotelli banget. Masa abis nyetak gol nggak pakai selebrasi buka baju!”

“Wih itu warna pakaiannya mencolok banget. Sampai mata yang memandang langsung silau!”

Ikutan Komunitas Memotret untuk Stok Foto di Instagram

Tim admin pura-pura kerja paling antusias kalau disuruh ikutan acara memotret. Kadang motret di jalanan, di kedai kopi, bahkan di destinasi wisata. Pokoknya acara motret, mesti datang. Tujuannya sudah amat sangat jelas. Mengumpulkan stok foto sebanyak-banyaknya. Agar sebulan ke depan, stok foto di Instagram bisa terpenuhi demi status panjat sosial anak-anak milenial.

“Spot di sana bagus. Fotoin ya, nanti langsung kirim via WA. Tapi pakai file dokumen agar tetap bagus.”

“Pinjam cake sama kopinya dong buat Story Instagram. Biar miskin penting tetap sombong, biar dikira selalu kongkow di kafe.”

Saking seringnya minta tolong seperti ini. Terkadang mitra pura-pura kerja yang diminta memotret agak risih. Kami tim pura-pura kerja sih cuek, penting stok foto melimpah.

Plesiran Weekday, Membuang Waktu Gabut

Kata salah satu admin, membuat pencitraan pura-pura kerja itu butuh tenaga lebih. Jadi harus diselingi dengan piknik. Buang-buang receh untuk kepuasan hati. Kalau tidak bisa buang receh, penting tetap eksis foto sedang berlibur.

Beruntungnya, seluruh admin tim pura-pura kerja berdomisili di Jogja. Jadi waktu berkumpul gampang. Pun untuk liburan di hari kerja. Sebagian besar cukup senggang waktunya. Jadi bisa plesiran ala remaja milenial sesuka hati. Kapan pun, di mana pun!

Seperti beberapa waktu yang lalu. Tim pura-pura kerja sedang mengagendakan camping di Waduk Sermo. Berlanjut camping ala-ala di Pantai Kesirat. Lokasinya ciamik tanpa mengeluarkan biaya yang banyak. suasana juga sepi, aman dari hiruk-pikuk wisatawan layaknya akhir pekan.

Sebenarnya, kesibukan tidak hanya lima ini sih. Hanya saja kelima aktivitas di atas paling sering dilakukan. Baiklah, itu sedikit bocoran bagi kalian para pembaca tentang admin di blog pura-pura kerja. Ada yang mau kenalan dengan para admin blog? Silakan DM Instagram kami!

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan