Press "Enter" to skip to content

Beberapa Pertimbangan Sebelum Kamu Pura-Pura Kerja

Last updated on 22 Maret 2019

Siang ini, aku bertemu dengan Kucing Malas; salah satu kontributor Pura-Pura Kerja di sebuah coffeshop mahal yang berada di Yogyakarta. Sambil memesan es teh, ia menyodorkan invoice yang harus aku bayar. Padahal kami sepakat, bahwa kami datang untuk pura-pura kerja. Bukan untuk merundingkan pekerjaan.

Sesungguhnya menjadi orang yang bekerja secara profesional/serius itu relatif lebih mudah dibanding berpura-pura kerja. Seperti yang kita tahu, bersikap pura-pura memiliki resiko besar. Pura-pura sakit untuk tidak masuk kerja misalnya. Bisa jadi Tuhan mengijabah kepura-puraan kita. Akhirnya karena kerap pura-pura sakit, Tuhan memberi kita penyakit. Celakalah kalian yang berpura-pura sakit.

Tapi jarang ada kasusnya, Tuhan mengijabah orang yang pura-pura kerja untuk kemudian bisa mendapat kerja.

Banyak pertimbangan yang perlu kamu perhatikan sebelum memulai pura-pura kerja. Selain niat yang tulus, ada beberapa pertimbangan lain yang biasa kami singkat dengan “Lokasi Si Kontol Panjang”. Apa saja beberapa pertimbangannya? Berikut penjelasannya!

Lokasi

Bagi yang bekerja secara profesional, mereka tentunya memiliki lokasi bekerja yang sudah pasti. Berbeda dengan kita yang berpura-pura kerja. Kadang kita harus berpikir lebih dari setengah hari untuk menentukan lokasi pura-pura kerja nantinya akan di mana?

Orang yang pura-pura kerja selalu memilih lokasi yang nyaman untuk bekerja. Paling tidak, lokasi tersebut menyediakan makanan minuman dan juga free wifi.

Situasi (Si)

Bagi yang bekerja secara profesional, situasi tempat bekerja tidaklah menjadi pertimbangan yang memberatkan. Misal situasi ruangan bekerja tidak nyaman, mereka harus tetap masuk kerja.  

Sedangkan bagi kita yang kerap pura-pura kerja, situasi sangatlah menentukan kualitas bekerja. Misal, ketika kita memilih café sebagai tempat bekerja, situasi yang paling nyaman adalah tidak bising, daftar lagu yang diputar bukan genre underground, screamo, metalcore, atau hardcore.

Kondisi (Kon)

Jika kondisi sedang mager (males gerak), yang diuntungkan adalah orang yang pura-pura kerja. Kita bisa ambil libur bekerja kapan pun.

Berbeda dengan para pekerja kantoran yang bekerja secara profesional. Meskipun dalam kondisi males gerak, badmood, demot (demotivasi), mereka harus tetap bekerja.

Kondisi lain yang perlu kita lihat adalah isi dompet dan rekening kita. Ya semua paham, untuk bisa pura-pura kerja ternyata membutuhkan biaya yang tak sedikit. Berbeda dengan mereka yang bekerja secara profesional, dimana proses kerja mereka diganti dengan upah yang dibayar tiap bulan. Lha, kalau kita? Supaya bisa mengakses internet? Beli makan minuman di coffeshop? Masa iya mau bawa air mineral dan nasi kotak Olive?

Toleransi (Tol)

Banyak orang tua yang cenderung ingin anaknya bisa bekerja kantoran, berpakaian necis, dan bisa pamer slip gaji bulanan.

Ya, namanya saja pura-pura kerja. Menolerir kepura-puraan tentu ada batasnya. Sampai kapan kamu mau pura-pura kerja? Sampai kapan pengeluaranmu lebih bengkak dibanding pendapatan?

Pandangan (Pan)

Pandangan orang lain pada kita yang kerap pura-pura kerja mungkin berbeda-beda. Jika kita pura-pura kerja dengan berpindah-pidah coffeshop, bisa jadi orang lain berpikir kita bekerja pada perusahaan yang kerap memberi uang saku harian cukup banyak.

Namun, bagaimana pandangan orang yang sudah mengenal sikap pura-pura kita?

Jangkauan (Jang)

Jangkauan di sini adalah seberapa banyak pemirsa yang bisa kita dustai bahwa kita benar-benar bekerja, bukan pura-pura kerja.

Orang yang bekerja secara profesional/serius bekerja, tentu tidak akan melihat seberapa banyak orang yang melihat kerjanya. Yang penting kan berangkat dan pulang sesuai jam kantor yang telah ditentukan. Presensi kerja terpenuhi dan bayaran yang diterima tetap utuh.   

Berbeda dengan kita yang pura-pura kerja. Pencitraan/menyombongkan diri sangatlah diperlukan untuk pura-pura kerja. Kalau bisa, ya kita memilih lokasi pura-pura kerja yang bisa dilihat banyak orang. Semakin banyak orang yang melihat kita pura-pura kerja, semakin keren penilaian orang terhadap kepribadian kita.

“Wah, Abdulloh pekerja keras, ya”.

Menjadi orang yang pura-pura kerja mungkin sebuah pilihan yang kurang menyenangkan. Karena dalam posisi ini, kita bukan sebagai seorang pekerja remote, freelancer, atau asesor (penilai) coffeshop.

Lantas, seburuk itukah orang yang pura-pura kerja? Dengan berbagai pertimbangan di atas, pura-pura kerja adalah upaya kami untuk menghindari olok-olok, mati gaya, obesitas, menumpulnya otak, dan dampak buruk lainnya.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan