Press "Enter" to skip to content

Profesi Milenial yang Sulit Dimengerti Para Orang Tua

Last updated on 1 Maret 2019

Bagaimana cara menjelaskan profesimu sekarang kepada orang tua generasi X (tahun lahir 1965-1976)? Jika profesimu sebagai dokter, PNS, guru, itu mudah-mudah saja. Bahkan kita tidak perlu menjelaskan jabatan kita sebagai PNS golongan berapa pun orang tua tetap akan bangga pada anaknya yang bekerja sebagai abdi negara. Namun, bagaimana jika profesimu adalah orang yang bekerja di perusahaan start-up? Bahkan orang tua dan keluargamu tak paham apa itu start-up.

“Sekarang kerja apa, nduk?”

“Saya kerja sebagai copy writer di PT Pura Pura Kerja, Budhe.”

Kemudian budemu hanya menangkap bahwa kamu bekerja sebagai penjaga mesin photocopy di sebuah ruko. Ah, sudahlah. Susah menjelaskannya.

Di jaman sekarang, lahirnya sebuah perusahaan berbasis teknologi digital semakin menjamur. Bahkan dengan mudahnya, sebuah rintisan usaha mikro disebut sebagai start-up. Pokoknya biar keren sebutannya.

Istilah penamaan profesi di perusahaan start-up pun semakin beragam dan keminggris (ke-inggris-inggrisan). Sebut saja Back-End/Front-End Developer, Copy Writer, Field Coordinator, User Experience Designer, Senior Web Developer, Social Media Specialist dan sebagainya.

Apakah orang tua kita cukup paham? Kalau kamu bisa menjelaskan dengan sabar, itu tak akan jadi masalah.

Jadi, apa saja profesi milenial yang susah dimengerti oleh orang tua generasi X?

1. Influencer

Tidak dapat dipungkiri, profesi ini sangatlah menjanjikan. Kamu hanya butuh menjadi seseorang dengan jumlah pengikut sosial media yang banyak untuk bisa menghasilkan uang. Cukup dengan huruf “K” yang mengikuti angka followers-mu, kamu berkesempatan menjadi seorang influencer. Bahkan tak sedikit, influencer yang pendapatannya melampaui PNS.     

Tapi bagaimana menjelaskannya kepada orang tua? Bagaimana kamu menceritakan proses menghasilkan uangnya? Rumit. Katakan saja kalau kamu menjadi pengusaha. Gak salah, kan? Semua kan dimulai dari niat dan usaha.

2. Content Writer/Content Creator

Pekerjaan yang satu ini juga sudah cukup familiar di telinga generasi milenial. Namun, terdengar asing di telinga orang tua generasi X. Media yang digunakan para content creator pun cukup beragam. Mulai dari platform video, audio, bahkan teks di sebuah portal online maupun website.

Menjelaskan profesi ini kepada orang tua sangatlah sulit. Jelaskan saja bahwa kamu bekerja sebagai seorang jurnalis/wartawan. Ya, paling tidak kedua profesi itu sama-sama membuat konten yang bisa dinikmati banyak orang.  

3. (Remote) Web Developer

Beberapa perusahan yang bergerak pada platform digital sekarang sudah banyak melibatkan pekerja lepas yang tidak perlu masuk kantor. Bahkan, beberapa perusahaan hanya perlu memiliki kantor virtual untuk menjalankan bisnisnya. Profesi yang satu ini lebih sulit dijelaskan kepada orang tua generasi X.

Karena kamu tak bekerja di kantor, mungkin orang tuamu mengira kamu adalah pengangguran. Padahal setiap beberapa jam kamu harus bekerja di depan komputer untuk menyusun deretan kode. Jika kamu memaksakan diri untuk menggunakan istilah pekerja remote, mungkin orang tuamu salah mengira bahwa kamu memproduksi atau berjualan remote TV atau AC. Katakan saja kalau kamu bekerja membuat website dan sedang ambil cuti panjang.

4. Social Media Strategist

Pekerjaan yang satu ini lebih rumit lagi. Jika orang tuamu cukup familiar dengan Facebook, mungkin tidak akan sulit menjelaskannya. Tapi bagaimana jika tidak? Katakan saja bahwa kamu adalah marketing di sebuah perusahaan. Jelaskan juga bahwa kamu bekerja di kantor. Karena bagi orang tua generasi X, semua profesi marketing itu akan bekerja seperti sales; menawarkan sebuah produk dari satu pintu ke pintu lain.

5. Blogger atau dalam Bahasa Indonesia Ditulis sebagai Bloger

Selain menjadi hobi, seorang blogger kadang menjadikan apa yang ditulisnya sebagai sumber pendapatan pasif. Bahkan tak sedikit juga blogger yang memang bekerja secara full-time mengurus blognya. Saat menjelaskan profesi yang satu ini, gunakan saja istilah wartawan/jurnalis supaya mudah dimengerti.

6. Travel/Tourism Consultant

Mendengar kata travel, orang tua generasi X selalu mengira bahwa kita bekerja di transportasi penyedia jasa antar wisatawan. Meski tidak salah, hal ini tentunya harus diluruskan.

Meski sering jalan-jalan ke luar kota, profesi ini kadang memiliki pengertian yang berbeda bagi orang tua generasi X. Biasanya, seorang travel consultant adalah mereka yang menyusun dan mengurus kebutuhan perjalanan wisata. Sedangkan tourism consultant adalah mereka yang bekerja sebagai konsultan dalam pembangunan industri kepariwisataan.

Meski sama-sama bergerak di industri pariwisata, kedua pekerjaan di atas memiliki lingkup pekerjaan yang berbeda. Travel consultant memastikan kenyamanan dan kepuasan orang/kelompok selama melakukan perjalanan wisata. Sementara tourism consultant menyiapkan industrinya.

Untuk memudahkan dalam penjelasan, katakan saja bahwa kamu bekerja sebagai konsultan. Paling tidak, profesi konsultan lebih menjual dibanding lainnya.

Orang tua butuh kejelasan anaknya bekerja di mana dan bidang apa. Tentu, profesi seperti PNS maupun pekerja kantoran yang berseragam masih ditempatkan sebagai profesi yang mulia. Supaya orang tua bangga pada anaknya, rajin-rajinlah mengirim uang dari hasil kerja keras kita. Supaya apa? Ya, jelas toh, ya. Biar kita tidak dikira pura-pura kerja.

Masok, ndan!

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan