Press "Enter" to skip to content

Seleksi Dosen UII

Ada banyak seleksi pekerjaan yang sudah pernah saya ikuti. Baik yang berakhir lolos tes, sampai yang hilang tak ada kabar sebagai tanda tidak lolos. Ada banyak sekali tips menghadapi seleksi kerja dari berbagai jenis perusahaan.

Sayangnya, saat saya mencari referensi tentang seleksi kerja untuk dunia akademisi, referensinya tidak cukup banyak, jika mau dibilang minim. Padahal seleksi kerja bidang akademis ini pengalaman pertama untuk saya.

Karena itu, saya ingin mendokumentasikan pengalaman saya mengikuti Seleksi Dosen Tetap Reguler UII pada periode Oktober 2019. Berikut saya jabarkan tahapan-pertahapan dan apa saja yang perlu disiapkan untuk mengikuti Seleksi Rekrutmen Dosen Tetap Reguler UII.

Berkas Seleksi Administratif

Cukup banyak persyaratan administratif untuk seleksi Dosen Tetap Reguler UII. Namun, setelah saya bandingkan dengan kampus-kampus besar lainnya, syarat-syaratnya sebenarnya mirip-mirip. Karena itu jika berencana melanjutkan karir sebagai akademisi, sudah mempersiapkan berkas-berkas penting yang umumnya memang dipakai dalam seleksi dosen.

Berkas Administrasi

Berikut persyaratan administrasi Seleksi Dosen Tetap UII 2019

  • Copy Ijazah dan Transkrip Nilai yang telah dilegalisasi, atau SKL dan transkrip nilai, dengan IPK minimal 3,00 untuk bidang eksakta, dan 3,25 untuk bidang sosial.
  • Bukti Akreditasi Perguruan Tinggi dan Program Studi berupa tangkapan layan (print screen) dari BAN-PT. Untuk pencarian akreditasi Program Studi klik di sini, sedangkan untuk Akreditasi Institusi klik di sini.
  • Pas Foto berwarna 4×6 sebanyak 4 lembar, saya kemarin pakai sisaan foto ijazah. Warna latar belakang tidak ditentukan.
  • KTP yang masih berlaku.
  • Akta Kelahiran, dilegalisasi di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil penerbit Akta. Realitasnya, hanya diminta 3 lembar saat sudah diterima. Tapi saya legalisir 10 lembar sekaligus sesuai batas maksimum.
  • Kartu Keluarga, dilegalisasi di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil penerbit KK. Saya legalisasi 10 lembar juga sekaligus sesuai batas maksimum .
  • Surat Keterangan Sehat Jasmani, Sehat Rohani dan Bebas Narkoba dari Rumah Sakit, bisa RSUD maupun RSUP. Setelah membandingkan harga, saya bikin di RSUD Kota Yogyakarta, Wirosaban.
  • Surat Keterangan Catatan Kepolisian alias SKCK yang masih berlaku dan dilegalisasi. Sebaiknya begitu lulus kuliah dan masuk petualangan job seeker, segera bikin SKCK.
  • Sertifikat TOEFL ITP minimal 500, atau Computer Based TOEFL minimal 173, atau internet based TOEFL minimal 61, atau IELTS minimal 6,0. Bagi yang tidak punya semua sertifikat tersebut, bisa mengikuti tes CEPT Certificate of English Proficiency Test di CILACS UII dengan skor minimal 629. Saya ikutan tes ini di CILACS Demangan dengan biaya Rp. 60,000 dan hasil test langsung keluar H+1.
  • Sertifikat Tes Potensi Akademik dengan skor minimal 500. Saya ikutan TPA yang diselenggarakan oleh Pusat Prikologi Terapan UII dengan biaya Rp. 380,000.
  • Surat Lamaran, CV dan berbagai surat keterangan yang ditentukan dan dapat diunduh formatnya di website SDM UII. Beberapa surat-surat ini membutuhkan materai, jadi siapkan juga materai yang cukup ya. Tips: Beli materai di kantor pos karena harga materai sesuai nilai yang tertera di materainya, misal materai Rp. 6,000 dijual seharga Rp. 6,000 juga.

Persiapan Berkas

Bagi yang sudah memiliki sertifikat-sertifikat TOEFL maupun TPA, mungkin akan lebih mudah menyiapkan berkas. Namun bagi saya yang tidak punya semuanya, maka persiapan berkas administratif ini cukup menyita waktu hampir satu bulan dan uang. Karena itu sebaiknya segera persiapkan berkas-berkas yang mungkin sulit, jauh dan butuh waktu.

Untuk berkas-berkas yang berhubungan dengan instansi pemerintah, seperti legalisasi Akta Kelahiran dan KK, membuat atau memperpanjang SKCK, pastikan betul-betul persyaratan pengajuan lengkap. Ini penting sekali agar tidak perlu bolak balik dan capek-capek antri. Alhamdulillah saya hanya menghabiskan total waktu 1 jam untuk legalisasi akta dan KK hingga selesai membuat SKCK baru.

Pastikan semua berkas administrasi sudah lengkap dan dipindai (scan) sesuai ketentuan rekrutmen UII. Karena ternyata dari seluruh tahapan seleksi, paling banyak gugur pada seleksi administrasi. Saat periode rekrutmen 2019, dari 600-an pelamar 500-nya gugur di seleksi administrasi.

Seleksi Tahap I

Sesuai lini masa (timeline) seleksi calon dosen tetap UII, Seleksi Tahap I berupa tes tertulis untuk topik Pengetahuan Umum dan Keislaman. Tes berisi 75 soal untuk masing-masing bidang, dan dimulai dengan Tes Pengetahuan Keislaman.

Tes Pengetahuan Keislaman ini bagi saya bukan yang gampang-gampang banget juga. Pembahasan dalam tes ini ada tentang Tauhid, Ibadah, hukum-hukum Islam, hingga topik Mu’amalah. Jadi diingat-ingat lagi ya pelajaran-pelajaran agama saat sekolah.

Untuk Tes Pengetahuan Umum ini saya kira skor saya mungkin tidak sebagus Tes Pengetahuan Keislaman. Dalam Tes Pengetahuan Umum Seleksi Dosen UII ada topik Sejarah Indonesia maupun Dunia, Politik Indonesia, Lingkungan, Teknologi, dan seputar dunia informatika.

Kalau rajin baca koran, berwawasan luas dan ngikutin perkembangan zaman, tes pengetahuan ini sebenarnya tidak sulit. Ya, karena sebelumnya saya pernah tes pengetahuan umum untuk seleksi OJK-RI yang menurut saya lebih rumit.

Seleksi Tahap I Seleksi Dosen UII ini hanya berlangsung setengah hari saja. Sebelum adzan Dhuhur berkumandang, tes sudah selesai dan peserta sudah bisa pulang. Hasil Tes Seleksi Tahap I juga diumumkan cukup cepat. Untuk pelaksanaan tes hari Senin, pengumuman sudah dipublish pada hari Kamis minggu yang sama.

Selanjutnya bagi peserta yang lolos Seleksi Tahap I, dapat mempersiapkan diri mengikuti Seleksi Tahap II pada Senin hingga Rabu minggu berikutnya. Karena Seleksi Tahap II ini memang lumayan membutuhkan persiapan.

Seleksi Tahap II

Dari keseluruhan tahapan seleksi, bagi saya Tahap II ini paling lama dan cukup melelahkan. Terutama pada hari pertama ketika tes dimulai lebih pagi pukul 07.00, dan baru selesai saat sudah sore.

Seleksi Tahap II terdiri dari 4 jenis tes yang dibagi dalam 3 hari:

  • Hari Pertama : Psikotes Tertulis, Focus Group Discussion
  • Hari Kedua : Wawancara Psikologi
  • Hari Ketiga : Tes Praktik Keislaman

Psikotes Tertulis & FGD

Sebagaimana Prikotes tertulis lainnya, tes ini berisi berbagai jenis alat tes. Diawali dengan mengisi formulir tentang data pribadi, lengkap dengan kompetensi, mengurutkan motivasi kerja, mengisi kelebihan dan kekurangan pribadi, dan semacamnya.

Selanjutnya tes dengan berbagai alat tes seperti Wartegg, Pauli, dan Draw a Man. Dilanjutkan dengan tes kepribadian, dan yang terakhir berupa serangkaian tes yang lumayan banyak soal maupun tahapnya.

Saya lupa nama tesnya, tapi kurang lebih berisi: Tes Kemampuan Verbal seperti sinonim, anonim, analogi, dan penalaran. Kemudian Tes Logika Aritmatika berupa deret angka dan hitung-hitungan matematika agak njelimet, lalu Tes Logika Matematika yang bikin saya mules duluan saat lihat soalnya.

Selanjutnya masih ada Tes Logika Penalaran dengan Deret Gambar, juga bikin saya pening lihat gambar 2D yang harus dibayangkan jadi 3D. Lalu terakhir favorit saya Tes Hafalan Kata yang dengan agak yakin saya merasa menjawab dengan benar 100%.

Terakhir, untuk persiapan FGD, kita diberi satu lembar contoh kasus, yang kemudian diminta untuk menuliskan problem utama dalam kasus tersebut, berikut penyelesaiannya. Juga bagaimana mengatasi konsekuensi yang keputusan yang kita pilih.

Keluar dari ruangan tes, peserta sudah dibagi dalam kelompok-kelompok untuk FGD. Tapi sebelumnya, sudah disediakan menu makan siang dalam nasi kotak, dan diberi waktu break untuk istirahat, makan siang, dan salat zuhur sebelum mulai tahap FGD.

Psikotes Wawancara

Peserta tes nantinya diberi jadwal interview untuk keesokan harinya. Jadi kita hanya perlu datang pada jam yang dijadwalkan saja. Interview ini mirip seperti wawancara HRD pada umumnya di perusahaan-perusahaan. Sesi interview per-orang dijadwalkan 45 menit, namun saat itu saya hanya interview selama 30 menit saja.

Praktik Keislaman

Nah ini tes yang waktu itu saya persiapkan dengan serius. Kenapa demikian? karena saat membaca apa saja yang menjadi bahan tes, saya langsung keder sendiri. Jadi ini 6 bahan tes dalam Praktik Keislaman yang nanti diuji di depan 4 Penguji:

  • Baca Tulis Al-Qur’an : Diminta untuk membuka Al-Qur’an di tengah, dan membaca kurang lebih 1 halaman yang pertama dibuka. Kemudian diminta menulis beberapa kalimat arab seperti basmalah, salam, kalimat-kalimat thoyibah.
  • Praktik Salat dan Thaharah : Gak hanya praktik, tetapi juga mengerti tentang hukum-hukum, syarat dan ketentuan dalam bersuci.
  • Hafalan Juz ‘Amma dan Doa Harian : Saya persiapan tes hafalan sampai An-Naba, walau ternyata kemudian yang diteskan tidak sebanyak itu.
  • Mu’amalah dan Wawasan Keislaman : Lebih ke bagaimana implementasi keilmuan kita dan apa kontribusinya untuk Islam.

Hasil Seleksi Dosen Tetap UII Tahap II kemudian diumumkan pada hari Senin minggu berikutnya. Sembari menunggu pengumuman, bisa sambil menyiapkan bahan pembelajaran mikro (microteaching) dan riset, karena siapa tau lolos tahap berikutnya, kan?

Seleksi Tahap III

Jika seleksi sejak awal hingga tahap terakhir dilakukan terpusat oleh Universitas, Seleksi Tahap III ini dilakukan di fakultasnya masing-masing. Karena itu bisa jadi seleksi antar fakultas tidak 100% sama. Namun secara umum seleksi tingkat fakultas terdiri dari wawancara kompetensi dan komitmen oleh Fakultas dan Jurusan yang dituju, Praktek Mengajar dan Riset.

Beberapa fakultas memiliki tambahan tes sendiri. Misalnya di Fakultas Ilmu Agama Islam ada tes tambahan Bahasa Arab. Atau di Fakultas Ekonomi masih ada seleksi tertulis kompetensi bidang. Bisa jadi di fakultas-fakultas lain juga ada tambahan tes lainnya yang mungkin berbeda satu dengan lainnya.

Jika sudah selesai melalui seluruh tahapan tes, maka yang tersisa dapat digunakan untuk berdoa. Waktu dari seleksi terakhir ke pengumuman akhir cukup lama. Ini berarti cukup lama juga waktu yang dapat kita pakai untuk berdoa agar diberikan hasil yang terbaik.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan